Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1430H


Sebelumnya admin Blog PKH Mojokerto Mohon maaf jika dalam sebulan ini, blog sangat jarang di-update, terkait dengan kegiatan alam nyata yang cukup menyita waktu, sehingga lupa update blog.

Dengan ini kami, para Pekerja Sosial Pendamping dan Operator Program Keluarga Harapan Kabupaten Mojokerto mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa 1430H/2009M.
Semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah SWT...

Read More......

Pemerintah Stop BLT Tahun Depan

[ Minggu, 26 Juli 2009 ]
Pemerintah Stop BLT Tahun Depan
JAKARTA - Teka-teki terkait kelanjutan Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) terjawab sudah. Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah menyatakan bahwa pemerintah tidak akan melanjutkan program kompensasi kenaik­an BBM itu pada 2010. Bahkan, Bachtiar mengatakan, pertimba­ngan penghentian program BLT karena program tersebut dinilai ku­rang mendidik masyarakat.

''BLT tidak bisa diberikan secara terus-menerus. Tahun 2009 ini me­rupakan tahun terakhir pe­nya­lurannya,'' ujar Bachtiar di Ja­kar­ta kemarin (25/7). Meski BLT ti­dak dilanjutkan, kata Mensos, pro­gram lain yang dianggap ber­hasil membantu masyarakat ke­cil akan dimaksimalkan. Tujuannya, mengganti program BLT, yakni Program Nasional Pem­berdayaan Masyarakat (PNPM), bantuan jaminan sosial, dan kredit usaha rakyat (KUR).

''Program BLT itu merupakan bantuan yang diberikan agar jumlah penduduk miskin tidak bertambah dan juga diterapkan oleh ne­gara-negara seperti Brazil dan Meksiko. Kini saatnya program lain yang berjalan,'' katanya.

Menurut Bachtiar, Indonesia mendapat pujian dari negara-nega­ra lain karena keberhasilannya dalam hal BLT. Terutama dalam me­maksimalkan program yang menangani 19,1 juta rumah tangga miskin dengan total dana yang disalurkan Rp 14 triliun tersebut. ''Karena itu, kami berharap, program bantuan bagi rakyat miskin yang telah berjalan baik bisa dilanjutkan dengan program yang lebih baik untuk mendukung rak­yat kecil,'' tegas dia.

BLT merupakan realisasi salah satu di antara tiga klaster program pe­merintah dalam mengen­taskan masyarakat dari kemiskinan dan mengurangi penganggur­an. (zul/iro)


Program PKH kok tidak disebut yah? Memang termasuk dalam Bantuan Jaminan Sosial sih, tapi kok meragukan yah? Semoga saja PKH juga termasuk Program bantuan yang hasilnya seperti yang diharapkan Pak Mensos

Read More......


Karena udah tanggal 12 Juli lebih, masih saja belum mendapat imel konfirmasi dari panitia Kompetisi blog mojokerto 2009, tak kira blog yang kubikin uda tersisih jauh2 hari :-( Tapi pas aku (iseng) tadi malam cek ke situs blogger Mojokerto, eh, masih masuk daftar hehe.

Memang sih, postingku banyak yang tidak orisinal, sekedar kopi paste dari beberapa harian besar seperti jawapos dan lain-lain. Waktu mendaftar aku cuma berpikir kalo konsep blog inilah yang orisinal, bukan postingnya, secara blog ini banyak kopi pastenya. Konsep dasarnya adalah membahas mojokerto dari sisi yang betul kuketahui secara pasti.

Kalau membahas masalah Candi Tikus, Kolam segaran, Onde-onde, aku sih kurang paham, bukan karena aku sok sibuk dan ga sempat jalan-jalan, hanya karena aku memang orangnya kuper, yang bahkan tempat jajan yang lengkap di Mojokerto aja gak tau.

Temen deketku yang dari Kediri kan ngekos di Mojokerto, kebetulan rekan kerja juga malah pernah nyeletuk gini, "Walah, wong Mojokerto gak ngerti Mojokerto", hanya karena aku tidak tahu tempat jajanan di Mojokerto hihihi...
Candi-candi juga cuma pernah numpang lewat aja, ga pernah mampir, lewat pun karena urusan kerja (parah deh)
Yah, secara geografis rumahku lebih deket ke Sidoarjo sih. Rumahku di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, yang sepanjang jalan protokol Krian-Mojosari, adalah desa yang merupakan perbatasan dengan Sidoarjo, 20Km dari Kabupaten.

Blog ini adalah blog yang kudedikasikan untuk para Pekerja Sosial Pendamping Program Keluarga Harapan Kabupaten Mojokerto yang aku juga turut di dalamnya. Yah, walaupun kadang (sangat) tidak update, isinya akan aku usahakan tetap fokus ke masalah PKH Mojokerto, sebuah sudut pandang lain dari Mojokerto.

Read More......

Pengaduan PKH

Salut atas kepedulian penulis pengaduan tentang mengapa tidak ada PKH di Kota Mojokerto, bahkan menyangkut pengembalian dana PKH ke pusat juga di bahas disitu.
Pengaduan tersebut dilayangkan melalui situs resmi kota Mojokerto.

Berikut cuplikannya

Ini versi fullnya, klik untuk melihat ukuran sebenarnya

Read More......

Google Crawl This Blog

kalau di blog pribadi saya ada ulasan ini, http://rrhakim.blogspot.com/2009/03/seberapa-cepat-google-meng-crawl-blog.html
saya coba sekali lagi untuk melihat seberapa cepat google menemukan update blog ini. Sebenarnya sih kurang fair karena blogger kan notabene milik google juga. Namun memang semakin terkenal (banyak trafik) suatu situs, google akan lebih cepat update data pencariannya. kalau dulu blog PKH masih agak lambat di-crawl, yaitu 8 menit, sekarang sudah lumayan cepat, 3 menit, seperti ilustrasi di bawah ini.

Read More......

Blog PKH Mojokerto No 1, DINSOS No 3


klik untuk memperbesar

Hari ini hasil pencarian Google dengan kata kunci "PKH Mojokerto" menampilkan blog nonresmi PKH Mojokerto di urutan teratas. Biasanya masih nomor 6 atau 7. Bahkan pernah melorot sampai halaman 4 pencarian. Kadang kalah juga sama blog pendahulu pkhmojokerto yang sekarang entah siapa yang mengadministrasi. Kalau hari ini bahkan situ Dinas Sosial Mojokerto duduk di posisi 3. Mungkin lagi banyak yang liat2 kali ya. Kalo pas lagi sepi ya melorot lagi.

Read More......

PENDEKATAN PEKERJAAN SOSIAL DALAM MENANGANI KEMISKINAN DI TANAH AIR

Salah satu permasalahan kesejahteraan sosial di Indonesia yang senantiasa menuntut keterlibatan pekerjaan sosial dalam penanganannya adalah masalah kemiskinan. Pekerjaan sosial adalah profesi pertolongan kemanusiaan yang fokus utamanya untuk membantu orang agar dapat membantu dirinya sendiri. Dalam proses pertolongannya, pekerjaan sosial berpijak pada nilai, pengetahuan dan keterampilan profesional yang mengedepankan prinsip keberfungsian sosial (social functioning) (Siporin, 1975; Zastrow, 1982; 1989; Morales, 1989; Suharto, 1997). Konsep keberfungsian sosial pada intinya menunjuk pada “kapabilitas” (capabilities) individu, keluarga atau masyarakat dalam menjalankan peran-peran sosial di lingkungannya. Konsepsi ini mengedepankan nilai bahwa klien adalah subyek pembangunan; bahwa klien memiliki kapabilitas dan potensi yang dapat dikembangkan dalam proses pertolongan, bahwa klien memiliki dan/atau dapat menjangkau, memanfaatkan, dan memobilisasi aset dan sumber-sumber yang ada di sekitar dirinya.
Sebagamana halnya profesi kedokteran berkaitan dengan konsepsi “kesehatan”, psikolog dengan konsepsi “perilaku adekuat”, guru dengan konsepsi “pendidikan”, dan pengacara dengan konsepsi “keadilan”, keberfungsian sosial merupakan konsepsi yang penting bagi pekerjaan sosial karena merupakan pembeda antara profesi pekerjaaan sosial dengan profesi lainnya. Morales dan Sheafor (1989:18) menyatakan:

Social functioning is a helpful concept because it takes into consideration both the environment characteristics of the person and the forces from the environment. It suggests that a person brings to the situation a set of behaviors, needs, and beliefs that are the result of his or her unique experiences from birth. Yet it also recognizes that whatever is brought to the situation must be related to the world as that person confronts it. It is in the transactions between the person and the parts of that person’s world that the quality of life can be enhanced or damaged. Herein lies the uniqueness of social work.


Secara konseptual pekerjaan sosial memandang bahwa kemiskinan merupakan persoalan-persoalan multidimensional, yang bermatra ekonomi-sosial dan individual-struktural. Berdasarkan perspektif ini, ada tiga kategori kemiskinan yang menjadi pusat perhatian pekerjaan sosial, yaitu:

1. Kelompok yang paling miskin (destitute) atau yang sering didefinisikan sebagai fakir miskin. Kelompok ini secara absolut memiliki pendapatan dibawah garis kemiskinan (umumnya tidak memiliki sumber pendapatan sama sekali) serta tidak memiliki akses terhadap berbagai pelayanan sosial.
2. Kelompok miskin (poor). Kelompok ini memiliki pendapatan dibawah garis kemiskinan namun secara relatif memiliki akses terhadap pelayanan sosial dasar (misalnya, masih memiliki sumber-sumber finansial, memiliki pendidikan dasar atau tidak buta huruf).
3. Kelompok rentan (vulnerable group). Kelompok ini dapat dikategorikan bebas dari kemesikinan, karena memiliki kehidupan yang relatif lebih baik ketimbang kelompok destitute maupun miskin. Namun sebenarnya kelompok yang sering disebut “near poor” (agak miskin) ini masih rentan terhadap berbagai perubahan sosial di sekitarnya. Mereka seringkali berpindah dari status “rentan” menjadi “miskin” dan bahkan “destitute” bila terjadi krisis ekonomi dan tidak mendapat pertolongan sosial.

Secara tegas, memang sulit mengkategorikan bahwa sasaran garapan pekerjaan sosial adalah salah satu kelompok dari ketiga kelompok di atas. Pekerjaan sosial melihat bahwa kelompok sasaran dalam menangani kemiskinan harus mencakup tiga kelompok miskin secara simultan. Dalam kaitan ini, maka seringkali orang mengklasifikasikan kemiskinan berdasarkan “status” atau “profil” yang melekat padanya yang kemudian disebut Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Gelandangan, pengemis, anak jalanan, suku terasing, jompo terlantar, penyandang cacat (tubuh, mental, sosial) dll adalah beberapa contoh PMKS yang sering diidentikan dengan sasaran pekerjaan sosial di Indonesia. Belum ada hasil penelitian yang komprehensif apakah mereka ini tergolong pada kelompok destitute, poor atau vulnerable. Namun dapat diasumsikan bahwa proporsi jumlah PMKS diantara ketiga kategori tersebut membentuk piramida kemiskinan.
Pada pendekatan pertama, pekerja sosial melihat penyebab kemiskinan dan sumber-sumber penyelesaian kemiskinan dalam kaitannya dengan lingkungan dimana si miskin tinggal, baik dalam konteks keluarga, kelompok pertemanan (peer group), maupun masyarakat. Penanganan kemiskinan yang bersifat kelembagaan (institutional) biasanya didasari oleh pertimbangan ini. Beberapa bentuk PROKESOS yang telah dan sedang dikembangkan oleh Depsos dapat disederhanakan menjadi:
1. Pemberian pelayanan dan rehabilitasi sosial yang diselenggarakan oleh panti-panti sosial.
2. Program jaminan, perlindungan dan asuransi kesejahteraan sosial.
Pendekatan kedua, yang melihat si miskin dalam konteks situasinya, strategi pekerjaan sosial berpijak pada prinsip-prinsip individualisation dan self-determinism yang melihat si miskin secara individual yang memiliki masalah dan kemampuan unik. Program anti kemiskinan dalam kacamata ini disesuaikan dengan kejadian-kejadian dan/atau masalah-masalah yang dihadapinya. PROKESOS penanganan kemiskinan dapat dikategorikan kedalam beberapa strategi:
1. Strategi kedaruratan. Misalnya, bantuan uang, barang dan tenaga bagi korban bencana alam.
2. Strategi kesementaraan atau residual. Misalnya, bantuan stimulan untuk usaha-usaha ekonomis produktif.
3. Strategi pemberdayaan. Misalnya, program pelatihan dan pembinaan keluarga muda mandiri, pembinaan partisipasi sosial masyarakat, pembinaan anak dan remaja.
4. Strategi “penanganan bagian yang hilang”. Strategi yang oleh Caroline Moser disebut sebagai “the missing piece strategy” ini meliputi program-program yang dianggap dapat memutuskan rantai kemiskinan melalui penanganan salah satu aspek kunci kemiskinan yang kalau “disentuh” akan membawa dampak pada aspek-aspek lainnya. Misalnya, pemberian kredit, program KUBE atau Kelompok Usaha Bersama.

STRATEGI MEMUTUS RANTAI KEMISKINAN : KONSEPSI PEKERJAAN SOSIAL (PENDAMPING) PKH (Program Keluarga harapan)

Sesuai dengan konsepsi mengenai keberfungsian sosial, strategi penanganan kemiskinan pekerjaan sosial terfokus pada peningkatan kemampuan orang miskin dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan sesuai dengan statusnya. Karena tugas-tugas kehidupan dan status merupakan konsepsi yang dinamis dan multi-wajah, maka intervensi pekerjaan sosial senantiasa melihat sasaran perubahan (orang miskin) tidak terpisah dari lingkungan dan situasi yang dihadapinya. Prinsip ini dikenal dengan pendekatan “person-in-environment dan person-in-situation”.
Tujuan dari Program Kelurga Harapan adalah merubah Pola Perilaku terhadap sasaran RTSM agar menjadi lebih baik untuk generasi yang datang. Dengan pembekalan bimbingan dan pelatihan Pekerja Sosial/pendamping senantiasa mampu membina dan mendorong agar RTSM dapat berjuang begitu pentingnya kesadaran masyarakat terhadap Pendidikan dan Kesehatan.
Keberhasilan/Ujung Tombak Program Keluarga Harapan ada dalam peranan pendamping dan Pemerintah Daerah. Dalam menjalankan tugas tanpa pamrih mau berkorban demi masyarakat dan atas dasar Ikhlas, siap menghadapi situasi dan kondisi lingkungan serta pendekatan lebih intensif, akan memberikan Motivasi terhadap RTSM sehingga dalam jangka panjang akan membawa dampak menjadi generasi yang lebih maju dari orang tuanya
Pentinganya Peranan Pemerintah Daerah menjadi Ukuran Keberhasilan Program Keluarga Harapan. Sejauh mana peranan pemerintah daerah selalu menjadi persoalan di lapangan. Sulitnya berkoordinasi dan respon dari intansi terkait begitu lambat dan mengabaikan. Sikap dan perilaku pejabat yang acuh tapi mau rakyatnya sejahtera tidak sejalan dengan pernyataan pejabat pembuat komitmen/Bupati.
Berbagai alasan tentunya didasar pada otonomi daerah, sehingga banyak kebijakan-kebijakan yang sifatnya paling penting didahulukan sehingga PKH ini kurang disambut meriah oleh Pemerintah Daerah tertentu. Persoalanya bagaimanapun gencarnya sosialisasi oleh Pendamping, tetap tidak berpengaruh pada kebijakan pemerintah setempat.

Penutup
Dapat disimpulkan bahwa kemiskinan merupakan masalah yang kompleks yang memerlukan penanganan lintas sektoral, lintas profesional dan lintas lembaga. Departemen Sosial merupakan salah satu lembaga pemerintah yang telah lama aktif dalam program pengentasan kemiskinan. Dalam strateginya Depsos berpijak pada teori dan pendekatan pekerjaan sosial.
Strategi penanganan kemiskinan dalam persepektif pekerjaan sosial terfokus pada peningkatan keberfungsian sosial si miskin (dalam arti individu dan kelompok) dalam kaitannya dengan konteks lingkungan dan situasi sosial.


Diposkan sebagai komentar halaman blog pkhmojokertokab.blogspot.com/2009/02/home oleh JUHADI OP. SUBANG disadur dari artikel oleh Edi Suharto Ph.D dengan perubahan seperlunya yang tidak mengubah makna.

Read More......

Logo Depsos yang Baru Pada Blog Ini

Akhirnya dengan sedikit susah payah, header blog ini berhasil juga untuk diganti dengan logo baru depsos, walaupun mengorbankan Tag Header supaya logonya kelihatan.
Ini dia header barunya.


Ini header yang lama



Kenapa sih suka Header yang rame dan rimbun? yah, berasa sejuk aja kalau melihat taman bunga.

Read More......

Komentar Terbaru